Kategori

Museum Dewantara Kirti Griya

Museum Dewantara - Tamansiswa Nyaman, mungkin inilah kesan pertama yang akan kita rasakan saat masuk ke Museum Dewantara Kirti Griya. Suasana rumah tinggal yang dijadikan museum, berlokasi di Jl. Tamansiswa No. 25 Yogyakarta ini memang asri. Sang pemilik, yakni Ki Hadjar Dewantara memang menginginkan kediamannya diabadikan sebagai museum. Berbagai jenis buku yang tersimpan di lemari, meja kursi, tas kerja kuno menjadi saksi sejarah sekaligus bagian penting yang tak terpisahkan dari keseharian seorang pejuang sekaligus tokoh pendidikan nasional ini.

Kesahajaan tokoh yang terkenal dengan semboyan “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” ini bisa kita lihat melalui barang-barang pribadi beliau. Di kamar tidur Ki Hadjar Dewantara yang tidak terlalu luas, masih tersimpan dengan baik sejumlah pakaian yang biasa ia kenakan, sikat peci, sisir, tongkat untuk membantu berjalan, tempat tidur putih berkelambu hingga kacamata bulat yang merupakan ciri khasnya. Sejumlah foto masa muda, foto organisasi, foto keluarga yang menampilkan putra-putri Ki Hadjar Dewantara, foto perkawinan perak menghiasi dinding bangunan rumah seluas 300 meter persegi ini.

Proyektil mortir 160 yang kini tersimpan di kotak kaca museum ini merupakan satu dari dua tembakan mortir Belanda yang sengaja diarahkan ke Tamansiswa pada Januari 1949. Ini menjadi bukti betapa Belanda merasa terusik dengan perlawanan yang terus menerus dilakukan Ki Hadjar Dewantara. Semangat untuk terus berjuang melepaskan diri dari kungkungan penjajah nampak sangat kental terkandung dalam pernyataanya yang terpajang di salah satu dinding museum “Kita haroes mempoenjai kekoeatan dan kepribadian dalam menghadapi perdjoeangan nasional ini. Djika tidak maka selamanja saoedara-saoedara akan tetap mendjadi boedak. Lepaskan diri dari perboedakan ini!”. Tak ketinggalan sederet piagam kehormatan terpajang di salah satu sudut museum, meskipun nilai kontribusi beliau bagi bangsa ini jauh lebih besar dari itu, bahkan tak ternilai. Atas jasanya yang teramat besar pulalah pemerintah menetapkan tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara yakni tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Museum Dewantara - Mortir Meskipun beberapa kali mengalami renovasi, termasuk saat gempa mengguncang Yogyakarta tahun 2006 lalu, pengelola museum tetap mempertahankan keaslian bangunan Museum Dewantara Kirti Griya. Bentuk bangunan dan tata letak ruangan masih sama, juga lantai museum yang masih mempergunakan tegel kuno. Keberadaan perpustakaan yang terletak persis di sebelah bangunan rumah Ki Hadjar Dewantara merupakan fasilitas penunjang museum. Sejumlah arsip, dokumen penting dan buku-buku koleksi Ki Hadjar Dewantara yang tidak bisa tertampung seluruhnya di dalam museum, bisa dilihat di perpustakaan ini. Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa sebagai pengelola museum berkomitmen akan tetap menjaga dan melestarikan berbagai peninggalan Ki Hadjar Dewantara. Komitmen ini dibuktikan dengan masih tersimpan dengan baik sejumlah koleksi museum, antara lain seperti telpon dan radio kuno, barang pecah belah, mebel antik serta kursi goyang yang biasa digunakan Ki Hadjar Dewantara sehari-hari. Pengelola museum dengan tegas menolak permintaan pihak-pihak yang ingin membeli peninggalan Bapak Pendidikan Nasional ini meskipun ditawar dengan harga yang sangat tinggi.

Jam buka museum:

Senin – Kamis : 08.00 – 13.30 WIB
Jumat : 08.00 – 11.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 12.00 WIB
Minggu dan hari besar tutup
Harga tiket masuk : sukarela

Bookmark and Share

Related Posts :

No related posts.

2 comments to Museum Dewantara Kirti Griya

Tinggalkan Balasan

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>