Candi Kalasan

Candi Kalasan Untuk menemukan lokasi Candi Kalasan tidaklah sulit. Dari jalan raya Yogya – Solo, kurang lebih 14 km timur Yogya, bangunan candi di selatan jalan pasti sudah terlihat. Hanya perlu masuk gang kurang lebih 50 m, kita sudah memasuki kompleks candi yang secara administratif masuk dalam wilayah Dusun Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY ini.

Berdasarkan prasasti yang berangka tahun 700 Çaka, diketahui latar belakang pendirian Candi Kalasan ini adalah permintaan para guru terhadap Maharaja Tejahpurana untuk membangun bangunan suci bagi Dewi Tara. Sebagai suatu bentuk persembahan bagi sang dewi, tentunya desain candi berikut materialnya dirancang sebaik mungkin. Namun Candi Kalasan yang dibangun sekitar tahun 778 M ini juga tak luput dimakan usia. Kini, bangunan Candi Kalasan sudah tidak utuh lagi seperti semula meskipun candi ini pernah dipugar oleh seorang Belanda pada tahun 1927 – 1929. Walau demikian, beberapa keistimewaan Candi Kalasan dibandingkan candi lain sampai sekarang masih bisa kita saksikan. Di antaranya, dinding candi yang dilapisi bajralepa yakni semacam semen pelapis sisi luar bangunan yang memberi efek kuning keemasan pada diding candi. Berdasarkan analisis laboratorium unsur bajralepa terdiri dari pasir kwarsa (30%), kalsit (40%), kalkopirit (25%) serta lempung (5%). Selain itu di sisi timur Candi Kalasan, tepat berada di depan tangga masuk, kita bisa menjumpai papan batu langka yang bentuknya hampir setengah lingkaran. Batu monolit ini juga sering disebut batu bulan atau moonstone.

Candi Kalasan - Relief Kala Pada setiap pintu masuk yang masih utuh, baik utara maupun selatan terdapat hiasan berupa kepala kala yang istimewa, yaitu pada bagian jengger terdapat kuncup-kuncup bunga, daun-daunan dan sulur-suluran. Pada rahang bagian atas terdapat hiasan singa di kanan kirinya, bagian atas dihiasi pohon dewata yang ada di kayangan, dan dipahatkan pula lukisan awan beserta penghuni kayangan memainkan bunyi-bunyian. Begitu pula dengan relung-relung lain dijumpai juga rangkaian kala dan makara. Pada tubuh candi bagian atas terdapat sebuah bangunan berbentuk kubus yang dianggap sebagai puncak Gunung Meru dan di sekitarnya terdapat stupa-stupa yang menggambarkan puncak suatu pegunungan.

Candi Kalasan - Bilik Utama Candi ini mempunyai bilik tengah yang di dalamnya terdapat singgasana terbuat dari batu yang mempunyai lapik dan sebuah sandaran yang di kanan kirinya diapit oleh hiasan singa berdiri di atas gajah. Di antara atap dan tubuh candi terdapat hiasan berupa gana (semacam makhluk kayangan kerdil). Atap candi berbentuk segi delapan dan bertingkat dua. Pada masing-masing sisi tingkat pertama terdapat arca Budha yang melukiskan para manusia Budha, sedangkan pada tingkat kedua dilukiskan Dyani Budha. Bagian puncak candi diperkirakan berupa stupa namun hingga sekarang tidak dapat direkonstruksi kembali karena banyak batu asli yang hilang. Di sekeliling Candi Kalasan terdapat stupa-stupa yang berjumlah 52 buah. Namun sayangnya stupa-stupa ini juga tidak ada yang dapat dipugar kembali dengan alasan yang sama. Saat ditemukan, stupa-stupa ini terdiri dari 81 buah peti batu. Di dalam beberapa peti batu tersimpan periuk dari perunggu atau tanah liat yang berisi abu, pakaian pendeta, manik-manik, lempengan emas bertulis dan juga genta perunggu yang saat ini disimpan di Museum Sonobudoyo.

Untuk masuk ke bilik utama Candi Kalasan harus menaiki sejumlah batu candi yang kini susunannya sudah tidak beraturan sehingga perlu berhati-hati. Bentuk candi yang sudah tidak utuh lagi terlihat jelas dari sisi barat. Batuan asli penyusun tubuh candi seperti runtuh separuh sehingga kini bentuk Candi Kalasan bisa dikatakan seperti kubus.

Jam buka : 06.00 WIB – 18.00 WIB

Harga tiket masuk : Rp 2.000

Bookmark and Share

No related posts.

2 comments on this post.
  1. bahri:

    peninggalan-peninggalan dahulu wajib di jaga dan di wariskan kepada generasi penerus sebagai fakta sejarah dan sebagai sejarah hidup baik itu dahulu, sekarang maupun akan datang.

  2. Widjojono:

    Bagi yang mau tau lebih detail dan kredibel tentang latar belakang berdirinya Candi Kalasan, baca Prof. Dr. Slamet Muljono : Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi

Leave a comment